Selasa, 19 November 2013

Inilah Karya Hebat Anak Negeri


Sudah bukan cerita baru kalau penemuan anak bangsa, sering kali malah tidak mendapat tempat di negara asalnya. Padahal, sejumlah karya mereka patut diperhitungkan.
Meski dengan segala keterbatasan, mereka justru mampu berinovasi menciptakan alat cukup hebat dan memiliki banyak manfaat. Di usia belia, para pelajar di Indonesia justru memperlihatkan tajinya dalam perang teknologi.
Seperti yang dilakukan Annisa Puteri Raka, siswa SMAN 6 Yogyakarta. Dia memiliki ide membuat Sepatu Anti Maling (Santiling).
“Ide awal pembuatan Santiling ini adalah ketika sandal dan sepatunya sering hilang saat ditinggal di halaman rumah dan masjid. Pada awalnya sih ikhlas-ikhlas saja, tapi lama-lama tekor juga beli sepatu dan sandal terus,” kata Annisa kepada VIVAnews di LIPI Jakarta, Jumat 15 November 2013.
Teknologi Santiling yang dibuat Annisa terdiri atas dua macam, Santiling Mini Switch dan Santiling Reed Switch.
Untuk Santiling Mini Switch, cara kerjanya adalah ketika sepatu mengalami tekanan atau diinjak oleh orang lain, maka alarm akan berbunyi. Sementara itu, Reed Switch adalah ketika jarak sepasang sepatu sudah berjauhan, maka alarm akan berbunyi.
Teknologi Santiling, menurut Annisa, bekerja dengan sistem remote control. Ketika tombol Santiling sudah di dalam posisi ON, maka saat jarak sepasang sepatu sudah berjauhan dan mengalami tekanan (diinjak), sensor akan mengirimkan sinyal ke alarm di sepatu dan di remote control.
“Dengan alat Santiling, maka orang-orang tidak perlu khawatir sepatu dan sandalnya hilang saat jauh dari pengawasan,” ujar Annisa.

Penyiram Tanaman dengan Ponsel
Karya tak kalah hebat juga ditunjukkan oleh dua orang anak siswa kelas lima di Sekolah Dasar Muhammadiyah Manyar, Gresik, Jawa Timur.
Adalah Fatima Ezzat dan Aurumita yang berhasil menciptakan alat penyiram tanaman dengan ponsel.
Konsep bernama Autopot ini memanfaatkan ponsel bekas untuk menyiram tanaman di mana dan kapan saja. Sistemnya memindahkan energi kimia menjadi energi listrik dan gerak.
Cara kerja dari alat Autopot dengan menyambungkannya dengan ponsel bekas. Lalu, dinamo akan bergerak menyedot dan memancurkan air jika ada sambungan telepon masuk.
“Jadi, prosesnya adalah ketika menelepon ke ponsel bekas, maka getaran dari ponsel bekas itu akan mengubah energi gerak menjadi listrik dan selanjutnya akan memberikan tekanan pada air,” ujar Fatima dan Aurumita, kepada VIVAnews.
Aurumita mengaku memiliki hobi menanam. Namun, karena sering bepergian ke luar kota, dia kerap lupa menyiram tanamannya. Dari sini lah ide menyiram tanaman dari jarak jauh bermula.
“Lalu, saya berpikir bagaimana menciptakan alat untuk menyiram tanamannya secara otomatis. Akhirnya, saya menemukan ide menyiram tanaman hanya dengan melakukan panggilan telepon,” ujar Aurumita.
Biaya pembuatan alat Autopot ini hanya Rp350 ribu. Komponennya terdiri atas botol bekas, ponsel bekas, kabel, SIM card, sedotan, dinamo, selotip, baterai, komponen listrik, dan penyemprot air dari mobil bekas.

Gelang Anti Penculikan
Penemuan alat berawal dari masih maraknya kasus penculikan terhadap anak-anak di Indonesia. Situasi ini menjadi ide bagi Nurina Zahra dan Tri Ayu Lestari, siswi SMAN 6 Yogyakarta, yang menciptakan Gelang Anti Penculikan (GAP) dengan sensor alarm otomatis.
“Gelang ini dirancang khusus untuk mengontrol anak atau bayi jika berada jauh dari jangkauan orangtuanya. Apabila si anak sudah berada jauh dari orangtuanya, maka alarm yang ada gelang orang tuanya akan berbunyi,” kata Nurina saat berbincang dengan VIVAnews.
Mekanisme dari Gelang Anti Penculikan ini adalah gelang yang dipakai oleh anak sudah berisi transmitter yang akan mengirimkan sinyal RX radio ke gelang milik orangtua.
Sinyal yang diterima oleh RX Radio akan masuk ke micro controller, kemudian dikeluarkan oleh alat buzzer berupa bunyi alarm.
Alarm akan berbunyi ketika orangtua dan anak berjarak 3 meter. Tapi, menurut Tri Ayu Lestari, ke depannya akan ditambah jaraknya supaya lebih jauh.
Selain menambahkan jarak, keduanya akan menambahkan fitur GPS untuk melihat lokasi anak ketika sudah berada jauh dari orang tuanya. “Fitur GPS itu akan memudahkan orangtua untuk mengetahui lokasi anak ketika benar-benar diculik,” kata Tri.
Keduanya punya harapan besar Gelang Anti Penculikan ini bisa diproduksi secara massal. “Mudah-mudahan alat ini bisa mengurangi kasus hilang atau diculiknya anak oleh orang-orang jahat,” ujarnya.

Rompi Canggih “Gadget Vest”
Dari gelang anti penculikan, kini beralih kepada mereka yang sangat tergantung dengan perangkat gadget, termasuk smartphone.
Penggunaan pengisi daya ponsel portabel, atau populer dengan istilah powerbank, semakin marak digunakan oleh para pengguna ponsel pintar.
Tapi, terkadang aktivitas mengisi daya ponsel dengan powerbank cukup mengganggu, pengguna ponsel harus menenteng ponsel dan powerbank secara bersamaan.
Kondisi itu membuat Yosua Imantaka, siswa SMAN 6 Yogyakarta, memutar otak. Dia kemudian memiliki ide membuat sebuah rompi yang membuatnya tidak kerepotan ketika membawa ponsel dan powerbank secara bersamaan.
Selain itu, rompi ini bisa menghindari tubuh dari efek gelombang elektromagnetik dari ponsel.
“Gadget Vest adalah sebuah rompi yang berfungsi untuk membuat pengguna memiliki ruang untuk menaruh ponsel yang sedang dicash powerbank. Selain itu, rompi dapat melindungi penggunanya dari terkena gelombang elektromagnetik dari ponsel,” kata Yosua.
Ide awal pembuatan Gadget Vest, dia melanjutkan, terinspirasi oleh baju pramuka perempuan yang memiliki banyak kantong untuk menyimpan barang.
Bahan-bahan untuk membuat Gadget Vest terdiri atas rompi anti air, kain flanel (bahan kain yang lembut dan tidak mudah robek), organite (bahan anti radiasi elektromagnetik ponsel yang terbuat dari risin fiberglass dan kristal quartz), dan daktron (berfungsi untuk mengurangi dampak benturan pada ponsel dan menahan panas dari sinar Matahari).
Biaya total pembuatan Gadget Vest cukup terjangkau, totalnya hanya sekitar Rp335 ribu.

Helm Berlampu Sein
Temuan kali ini cukup penting untuk menekan angka kecelakaan lalulintas. Berawal dari banyaknya penyebab kecelakaan, ketika lampu sein pada sepeda motor sudah tertutup oleh barang-barang dagangan atau pun gerobak.
Untuk mengurangi kecelakaan akibat kondisi kendaraan bermotor yang minim fasilitas lampu sein, maka dua siswa asal SMP Islam Al Azhar 26, Yogyakarta, Naufal Rasendriya Apta dan Archel Valiano menciptakan sebuah helm yang sudah dilengkapi dengan lampu sein.
Cara kerja dari helm yang dilengkapi dengan lampu sein ini juga cukup mudah. Jika pengendara ingin berbelok ke kiri, pengendara cukup menggelengkan kepala ke kiri dan lampu sein bagian kiri menyala. Begitu pun ketika akan berbelok ke kanan.
Sementara itu, untuk mematikan lampu sein, pengendara cukup menganggukkan kepala sebanyak dua kali. Lampu sein akan otomatis langsung mati.
Alat-alat yang dibutuhkan untuk pembuatan helm berlampu sein ini terdiri atas sensor accelero meter, micro controller AT Mega 8, lampu sein (kanan dan kiri), serta baterai.
Hasil buah karya Naufal dan Archel akhirnya keluar sebagai pemenang kedua untuk kategori National Young Inventors Award (NYIA) di Kompetisi Ilmiah LIPI.

Jaring 2.500 Karya Ilmiah
Semua penemuan ini adalah finalis dari kategori National Young Inventor Awards (NYIA) di Kompetisi Ilmiah yang digelar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 14-15 November 2013.
LIPI sengaja menggelar Kompetisi Ilmiah untuk merangsang munculnya inovator-inovator muda yang nantinya bakal diadu di tingkat internasional.
Kompetisi ini terdiri atas serangkaian lomba, di antaranya Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) ke-45, Lomba Karya Ilmiah Guru (LKIG) ke-21, Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia (PPRI) ke-12, dan National Young Inventor Award (NYIA) ke-6.
Menurut Kepala LIPI, Lukman Hakim, era globalisasi yang sangat kompetitif ini, anak-anak bangsa harus meningkatkan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Khususnya untuk menciptakan sumber daya manusia berbasis iptek.
“LIPI merasa pentingnya pendidikan iptek di kalangan remaja. Kompetisi ilmiah ini untuk meningkat kemampuan anak-anak bangsa dalam menciptakan solusi-solusi teknologi di masa depan,” kata Lukman.
Pada tahap awal Kompetisi Ilmiah 2013 ini, LIPI menjaring 2.500 karya ilmiah. Tapi, setelah diseleksi berhasil menetapkan 103 finalis karya ilmiah.
Nantinya, ke-103 finalis akan mempresentasikan karya ilmiahnya di depan dewan juri dan ditetapkan pemenangnya dari masing-masing kategori.
“Nanti, karya ilmiah terbaik untuk kategori LKIR dan NYIA akan diberangkatkan ke ajang internasional. Seperti ajang Intel International Science and Engineering Fair pada 2014 dan International Exhibition for Young Inventors 2014,” ujar Kepala Biro Kerja Sama dan Pemasyarakatan Iptek LIPI, Bogie Soedjatmiko Eko Tjahjono.




Sumber: news.fimadani.com

Selasa, 05 November 2013

Selamat & Sukses Muswil 3 JSIT Jateng


Kami atas nama Keluarga Besar KB IT, TK IT dan SD IT "Salman al-Farisi" mengucapkan Selamat dan Sukses atas agenda Musyawarah Wilayah (Muswil) 3 Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia Wilayah Jateng yang Insya' Alloh akan diselenggarakan di Kota Salatiga, 23-24 November 2013. Muswil kali ini mengambil tema "Pengkohan JSIT Indonesia Wilayah Jawa Tengah untuk Mewujudkan Generasi Emas Indonesia."
Menurut situs resmi panitia, acara Muswil ini bertujuan untuk menyampaikan laporan pertanggungjawaban pengurus sebelumnya, mendemisionerkan pengurus, dan memilih ketua JSIT Wilayah Jateng yang baru. Selain acara musyawarah juga diadakan beberapa acara pendukung.
Diantara acara pendukungnya Muswil adalah seminar nasional pendidikan karakter yang Insya' Alloh akan menghadirkan JSIT Pusat dan Pusat Kurikulum (Puskur). Selain itu juga akan diadakan acara seminar parenting untuk orang tua wali murid SIT dengan tema "Mewujudkan Generasi Emas Indonesia", yang pemateri Insya' Alloh akan disampaikan Oleh Ustadz Cahyadi Takariawan (penulis buku) dan Muh. Haris, SS, M.Si. (Wakil Walikota Salatiga). Ada juga beberapa lomba, yakni lomba menulis untuk guru dan siswa SD, serta lomba design poster untuk siswa SMP IT dan SMA IT.
Acara ini rencana akan dihadiri oleh 242 kepala sekolah-kepala sekolah di lingkup JSIT Wilayah Jateng dari jenjang TKIT, hingga SMAIT. Juga ditambah perwakilan JSIT Indonesia Pusat, Forum Pengelola SIT, dan JSIT Wilayah.
JSIT Wilayah Jateng mengamanahkan JSIT Korda Kabupaten Semarang-Kota Salatiga untuk menjadi panitia sekaligus tuan rumah acara Muswil. Oleh karenanya, bila tidak ada halangan acara Muswil III ini akan diadakan di Grand Hotel Salatiga di Jalan Jendral Sudirman No. 2 Salatiga. Mudah-mudahan acara ini berjalan dengan lancar tanpa halangan suatu apa sehingga mampu merumuskan kebijakan yang strategis bagi peserta pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. amin...

Jumat, 18 Oktober 2013

INVESTASI YANG TIDAK ADA RUGINYA

Gambar di samping adalah rencana pembangunan kelas baru di SD IT Salman al-Farisi Tayu Kulon-Tayu-Pati-Jawa Tengah, namun sementara waktu terhenti dikarenakan dana yang belum cukup untuk melanjutkan pembangunan kelas tersebut. 
Ini adalah sebuah kesempatan emas bagi para pembaca yang bermaksud ‘menyimpan’ dana atau uangnya dengan kelipatan keuntungan yang tiada tara, yakni 700 persen. Sebuah keuntungan yang tidak satupun lembaga keuangan (BPRS, BMT, Bank-Bank Syariah, ataupun Bank-Bank ribawi spt BCA, dll) di dunia ini yang mampu mewujudkannya. Meskipun memang keuntungan tersebut tidak bisa langsung kita rasakan seketika. Namun Allah berjanji dalam firman-Nya:
مثل الذين ينفقون أموالهم في سبيل الله كمثل حبة أنبتت سبع سنابل في كل سنبلة مئة حبة والله يضاعف لمن يشاء والله واسع عليم
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. al-Baqarah[2] ayat 261).

Maka kami memberi kesempatan bagi para muhsinin, agar dana Anda tidak menguap sia-sia di dunia, silahkan kirimkan donasi ke rekening 
Bank Jateng dengan nomor 300 6 197 999 atas nama SD IT Salman al-Farisi. 
Semoga kesempatan ini bisa Anda manfaatkan sebaik-baiknya. Karena lazimnya kesempatan tidak akan datang dua kali. Bârakallahu fîkum. Amin...

Selasa, 03 September 2013

Ikut Atasan, Siswa Terlantar


Selamat pagi salmania....... semoga Rahmat Alloh senantiasa melingkupi anda semua. Shalawat serta salam marilah tetap kita kirimkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, keluarga, para shahabatnya dan orang-orang yang sampai saat ini masih memegang teguh sunnah-sunnah beliau.

Hari ini sekolah-sekolah di seluruh Kabupaten Pati yang berada dalam naungan Dinas Pendidikan Pati meliburkan diri. Hal ini terjadi karena para guru diwajibkan ikut Halal Bihalal di Pendopo Kabupaten Pati. Tujuan dari acara ini 'katanya' adalah dalam rangka mendapatkan rekor MURI Halal Bihalal guru terbanyak.
Bagi kami acara ini HANYAlah membuang-buang waktu pelajar saja. Lihatlah dan coba kita hitung berapa banyak waktu yang terbuang karena mereka tidak sekolah. Berapa banyak siswa yang akhirnya berkeliaran di warnet-warnet, mejeng di tempat perbelanjaan dan kegiatan negatif lainnya. Bukankah mestinya acara yang kurang penting seperti dilaksanakan pada tanggal merah?

Namun, apa mau dikata bagi kita-kita yang berada di bawah tidaklah mampu melawan ide aneh ini. Lihatlah, guru-guru yang sebenarnya memiliki idealisme tinggi akhirnya tunduk dan patuh pada perintah yang yang merugikan ini. Mereka, terutama para PNS, ikut saja atasan meski tidak sesuai dengan hati nurani mereka. Tugas guru adalah untuk mencerdaskan dan mendidik siswa-siswi bukan justru melakukan acara yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan didik-mendidik, apalagi jika niatnya HANYA ingin tercatat di rekor MURI.

Sungguh sangat membanggakan jika yang tercatat adalah misalnya, ratusan atau ribuan siswa di Pati mendapatkan nilai sepuluh pada pelajaran matematika UN, atau ratusan siswa SMA di Pati dikirim ke Luar Negeri untuk mengikuti pertukaran pelajar, atau ribuan alumni SMK di Pati dikontrak oleh perusahaan bergengsi, dan seterusnya. Ini baru namanya hebat! Rekor MURI tapi masih berhubungan dengan pendidikan, bukan Halal Bihalal!

Semoga saja acara ini tidak terulang lagi; sebuah acara yang tidak penting tapi merugikan anak-anak sekolah. Amin.....

Jumat, 21 Juni 2013

Kesempatan Sekolah Gratis di SDIT Salman al-Farisi


Bismillah.... Pagi Salmania.... semoga kebahagiaan senantiasa melingkupi Anda semua. Bersyukurlah atas setiap detik nikmat yang Alloh berikan kepada kita, terutama nikmat Islam dan nikmat Iman. Salmania... Sebagai salah satu kepedulian kami atas pendidikan yang bermutu bagi masyarakat yang kurang mampu (dhu'afa) atau anak yatim/piatu maka kami memberikan pendidikan gratis bagi anak-anak tersebut.
Kesempatan ini hanya berlaku bagi warga sekitar SDIT Salman al-Farisi, yakni dukuh mBabrik secara khusus dan Desa Tayu Kulon pada umumnya.
Beasiswa siswa miskin dan yatim piatu ini hanya diperuntukkan bagi 3 (tiga) anak, maka jika pendaftar lebih dari kuota tersebut maka kami akan melakukan seleksi untuk mencari siapa yang paling membutuhkan diantara mereka.
Bagi anda yang memiliki rekan atau saudara yang kebetulan tinggal di sekitar SDIT Salman al-Farisi Tayu Kulon dan berekonomi lemah atau kurang mampu, apalagi yatim piatu maka segera mendaftarkan diri di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Salman al-Farisi. Beasiswa ini terwujud atas para donatur atau muhsinin yang memberikan dananya secara sukarela untuk iktu mencerdaskan anak-anak kurang mampu.
Bagi anda yang berminat untuk beramal jariyah untuk siswa miskin atau yatim piatu ini silahkan mengirimkan dananya secara sukarela ke rekening SDIT Salman al-Farisi di Bank Jateng dengan nomor rekening 3-006-19799-9. Mudah-mudahan amal jariyah anda diterima Alloh dan diberi balasan yang berlipat-lipat baik di dunia maupun di akherat. amin...

Kamis, 13 Juni 2013

Hari Gini Sekolah di SD biasa, Apa Kata Dunia?

Assalamu'alaikum salmania...!, semoga pagi ini keberkahan dan karunia Alloh melimpahi diri anda semua. Kali ini kita akan membahas tentang SD negeri atau SD biasa. Tahukan seperti apa pembelajaran di SD Negeri? Coba kita perhatikan, sebagian besar sekolah dasar negeri terkesan asal-asalan dalam menjalankan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).Wajar saja karena mayoritas pengajarnya adalah guru PNS dimana mengajar atau tidak mereka tetap saja mendapatkan gaji bulanan. Bahkan ada seorang guru SD berstatus PNS yang lebih menyukai mengajar sedikit anak daripada mengajar banyak anak dalam satu kelas. Karena toh meskipun muridnya sedikit gajinya tidak berkurang sama sekali.
Mohon maaf, tulisan ini bukan dalam rangka menjelekkan sekolah-sekolah dasar yang ada. Buat apa? Toh saya sendiri adalah alumni sekolah negeri. Tulisan ini adalah sebuah fakta alias kenyataan yang terjadi di lapangan. Memang tidak saya pungkiri ada beberapa SD yang berkualitas dan mutunya sangat bagus, namun itu bisa dihitung dengan jari. Dari pengalaman di berbagai daerah, dan atas informasi dari beberapa kolega guru di daerah-daerah faktanya sama, kebanyakan sekolah negeri seperti itu.
Oleh karena itu sudah saatnya kita menyekolahkan putra-putri kita di sekolah yang luar biasa. Sekolah di SD negeri sudah bukan zamannya lagi, meski toh sekarang gratis alias tanpa biaya. Nah, ini juga menjadi salah satu alasan bagi guru untuk menjawab walimurid yang menanyakan kualitas lulusan. "Wong gratis kok minta macam-macam!" Begitu biasanya jawaban yang diberikan, sungguh menyakitkan.
Dari sisi lain, misalnya seragam yang dikenakan, sangat tidak syar'i. Yang putri tidak memakai jilbab dan tinggi rok hanya di atas lutut. Yang lelaki juga demikian hanya memakai celana pendek, meskipun memang mereka belum baligh. Namun, membiasakan seorang anak untuk selalu menutup aurat adalah pendidikan yang penting untuk diberikan sejak dini agar anak terbiasa dengan hal tersebut. Meskipun saya bersyukurbahwa saat ini sudah ada beberapa SD negeri yang mewajibkan siswinya berjilbab dan siswa bercelana panjang. Semoga saja dari segi kualitas juga ditingkatkan, bukan asal-asalan.
Nah, jangan sampai kita mengorbankan pendidikan anak-anak kita dengan menyekolahkan di SD biasa yang kualitasnya juga biasa-biasa saja. Silahkan menyekolahkan di SD negeri asalkan kita sudah meneliti betul kualitas SD tersebut. Jangan sampai kita menyekolahkan anak kita di SD negeri 'hanya' karena gratis. Sungguh kasihan anak-anak kita yang sebetulnya bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik, namun gagal karena ulah kita sendiri.
Syukurlah sekarang sudah banyak berdiri sekolah dasar islam terpadu di berbagai daerah. Ini adalah anugerah bagi kita, karena kita bisa mendapatkan pendidikan yang berkualitas untuk anak-anak kita. Memang kita harus mengeluarkan sedikit biaya untuk itu. Namun demi anak-anak kita, mestinya kita tidak eman-eman atau pelit-pelit amat. Toh kalau anak kita pandai, sholeh, berbakti kepada orangtuanya, siapa yang tidak senang? Jangan sampai kita rela mengeluarkan ratusan ribu untuk membeli rokok, namun pendidikan anak-anak kita terbengkalai.
Di sekolah islam terpadu, selain diajarkan pendidikan formal juga diajarkan pendidikan agama yang efektif. Saya katakan efektif karena guru-guru di sekolah islam terpadu terseleksi betul dari segi ruhiyahnya. Sehingga anak-anak kita akan terbiasa melakukan amal sholeh karena langsung melihat contohnya dari guru-gurunya di sekolah. Contohnya, ketika anak bertengkar maka diajarkan untuk saling memaafkan. Jika anak berbuat salah maka diajarkan untuk mengucapkan istighfar. Sesuatu yang susah didapatkan di SD negeri. Maka buat apa berpikir lebih lama untuk sekolah di SIT?



Jumat, 03 Mei 2013

SPP sangat murah cuma Rp. 3.333,-

Assalamu'alaikum sahabat-sahabat semua.....
Banyak dari pertanyaan yang ditujukan ke kami, bahwa sekolah di SIT itu mahal. Mari kita hitung bersama, benarkah pernyataan itu?
Di SDIT Salman al-Farisi ditetapkan bahwa SPP sebesar Rp. 100.000,- kalau kita bagi selama sebulan maka kita HANYA perlu menyisihkan uang sebesar Rp. 3.333,- per hari. Bukankah teramat sangat murah? Dengan uang sekecil itu kita mendapatkan banyak manfaat:
  1. Anak kita 'kopen' dan tidak liar di rumah sendiri. Bandingkan jika anak kita sekolah di SD Negeri. Di SD Negeri biasanya pulang jam 10:00, bahkan terkadang jam 09:00 sudah pulang. Ini tetangga SDIT Salman al-Farisi bahkan jam 08:00 sudah pulang, alasannya karena senin harinya anak-anak kelas VI mau UN. Saya sendiri adalah lulusan SD Negeri. Teringat dulu seringkali pulang pagi dengan berbagai alasan dari guru, dari yang ada rapat lah, yang takziah lah, yang nengok orang sakit lah. Kalau begini MESKIPUN GRATIS, anak kita jadi korban. Lulus SD tapi tidak tahu apa-apa. Na'udzubillah....
  2. Kita tidak perlu lagi ngantar anak untuk ikut TPQ (Taman Pendidikan al-Qur'an) pada sore harinya. Mengapa? Karena di SDIT Salman al-Farisi pada pagi harinya dimulai dengan pelajaran TPQ alias belajar baca al-Qur'an. Artinya kita tidak perlu kerja dua kali: antar anak sekolah pagi lalu antar anak untuk TPQ. Praktis bukan?
  3. Kita tidak perlu memberi uang saku jika anak kita sekolah di SIT, karena di SIT sudah disediakan snack dan makan siang. Ini juga berarti menghemat pengeluaran. Kalau anak kita sekolah di SD pada pagi harinya dan TPQ pada sore harinya minimal kita keluar uang untuk saku anak-anak kita Rp. 3.000,-. Bukankah lebih baik kita keluarkan tambahan uang demi pendidikan anak-anak kita?
  4. Sekolah di SIT, Insya' Alloh berkumpul dengan orang-orang baik. Dan yang paling penting, pihak sekolah berusaha mendidik anak-anak agar menjadi orang-orang yang baik. Berdasar pengalaman, para pengajar di SIT di berbagai tempat jika dibandingkan dengan pengajar di sekolah negeri teramat beda. Guru di SIT sangat terlihat komitmen dan keseriusan mereka dalam mendidik siswa, sedangkan guru-guru negeri terkadang semaunya saja, karena toh mereka digaji oleh negara, bukan oleh walimurid. Bahkan ada seorang kenalan guru PNS yang lebih suka memiliki murid sedikit daripada murid banyak. Karena dengan murid yang sedikit akan memperingan kerja mereka, sedangkan gaji tidak berkurang.
  5. Salah satu pesan dari Sunan Kalijaga adalah "Wong kang sholeh kumpulono", jika kita ingin hidup bahagia di dunia maupun di akherat maka marilah kita berkumpul dengan orang-orang sholeh.
Maka dengan pertimbangan seperti itu, sebenarnya tidak ada alasan bagi orangtua yang ingin anaknya menjadi lebih baik untuk tidak sekolah di SIT. Berkorban sedikit uang lebih utama daripada tidak keluar uang namun anak-anak kita tidak terdidik dengan semestinya.

Wassalamu'alaikum.....

Admin sitsalmanalfarisi.blogspot.com